Thursday, April 3, 2014

Ayoo ikut UKT !!


Teman temin..
Gak kerasa udah mau diadakan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) lagi niih ..
UKT periode II ini akan dilaksanakan pada 4 Mei 2014 pukul 07.30WIB bertempat di hall AA YKPN ..
Bagi teman teman yang berminat, berikut ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mengikuti UKT :
1.  Mengikuti dan Lolos Simulasi UKT.
Simulasi UKT akan diadakan pada:
·         SELASA, 8 APRIL 2014 di Aula Kampus Mrican pukul 18.00WIB.
·         KAMIS, 10 APRIL 2014 di Hall Selatan Kampus Paingan 18.00WIB.

2. Memenuhi presensi latihan minimal :
·         Sabuk putih s/d biru : min 15 kali latihan
·         Sabuk biru s/d merah strip II : min 20 kali latihan

3. Melunasi uang iuran bulanan sampai bulan dilaksanakannya ujian ke dojang masing masing.

4. Membayar uang ujian :
·         sabuk putih s/d biru : Rp 100.000,-
·         sabuk biru strip s/d merah strip II : Rp 125.000,-
termasuk biaya operasional pelaksanaan UKT.

5. Pas foto BERWARNA dengan menggunakan dobok ukuran 3 X 4 cm sebanyak 3 LEMBAR untuk sabuk putih dan 1 LEMBAR untuk sabuk kuning ke atas dan diberi NAMA dan DOJANG di BELAKANG foto.

6. Mengisi buku ujian yang disediakan dan disahkan oleh pengurus dojang.

7. "PENTING!!!"
·         Penyerahan syarat dan ketentuan untuk mengikuti UKT dimohon diserahkan kepada pengurus paling lambat Senin, 21 april 2014.
·         Bila sudah melewati tanggal yang telah di tentukan penyerahan syarat dan ketentuan tidak akan diterima.

Thursday, March 6, 2014

Filosofi Aliran Taekwondo Dunia

Falsafah Taekwondo sangat khusus, tapi apa yang membuatnya begitu istimewa? Jika kita belajar dari buku-buku filsafat, kita cenderung untuk tidak memperhatikannya, karena falsafah atau filsafat itu cenderung tidak berhubungan dengan kehidupan kita sebenarnya. Tetapi sejak Taekwondo terhubung dengan kehidupan kita seperti setiap kehidupan kita sehari-hari, kita seharusnya tidak pernah lupa dengan filosofi dari taekwondo itu sendiri.
Falsafah dari Taekwondo yakni, salah satu tindakan yang dapat kita pelajari dari tindakan lain, dalam kegiatan sehari-hari. Filosofi Taekwondo mewakili prinsip-prinsip dan perubahan dalam pergerakan manusia. Hal ini juga merupakan prinsip-prinsip hidup kita, karena hidup terdiri dari gerakan itu. Karena itu, kami dapat katakan itu adalah filosofi Taekwondo sendiri. Kita bisa memahami filosofi dari Taekwondo dengan melakukan Taekwondo, dan ini akan membantu kita memahami pengertian yang lebih baik dan peningkatan kehidupan kita.
Prinsip-prinsip Taekwondo dapat dijelaskan dalam beberapa cara, tetapi di sini kita akan menjelaskan itu cukup dengan prinsip “Sam Jae” [Tiga Elemen] dan yang “Eum” [atau yang Negatif atau kegelapan] dan “Yang” [yang positif atau kecerahan]. “Sam Jae” merujuk kepada “Cheon” [di langit], “Ji” [Bumi], dan “Dalam” [manusia] dan prinsip-prinsip tentang mereka. Oriental di negara-negara, telah diakui sebagai pusat prinsip yang menjelaskan perubahan dari segala sesuatu di dunia. “Sam Jae” dan perubahan “Eum” dan “Yang” merupakan “Delapan Trigrams untuk Ramalan” dalam “Buku Perubahan.” Prinsip Jae Sam telah ditekankan dalam oriental negara, khususnya di Korea. Jika Anda memahami prinsip dari Taekwondo, Anda dapat memahami semua kemampuan dan rohani kedalaman Taekwondo. Prinsip Eum dan Yang juga telah ditekankan dalam oriental negara sebagai pusat prinsip kehidupan.

Sumber - zztkdteam.wordpress.com

Sunday, February 9, 2014

Ujian Kenaikan Tingkat Diawal tahun 2014


Ujian Kenaikan Tingkat(UKT) periode pertama tahun 2014 ini bertempat di GOR Amongrogo bantul, minggu(2/2). Ujian yang diadakan oleh Eagle Spirit Taekwondo Academy(ESTA) mendapat perhatian khusus oleh para Taekwondoin. Bisa terlihat dari jumlah peserta ujian yang mencapai lebih dari 900 peserta. Ujian dimulai pukul 12.00 WIB untuk sabuk putih sampai dengan sabuk merah. Sedangkan untuk ujian sabuk black belt sudah diadakan sabtu(1/2) dan dilanjutkan kembali di minggu(2/2) pukul 07:00 WIB.

Di Ujian Kenaikan Tingkat(UKT) yang sudah dinanti nanti ini, Dojang Sanata Dharma mengirimkan 37 atletnya. 1 orang ujian geup, 17 orang sabuk putih, 8 orang sabuk kuning, 1 orang sabuk kuning strip, 1 orang sabuk hijau, 7 orang hijau strip, 2 orang sabuk biru, dan 1 orang sabuk merah.

Walaupun peserta Ujian Kenaikan Tingkat(UKT) dari Dojang Sanata Dharma masih di dominasi oleh para pemula, diharapkan mereka mampu membentuk karakter mental yang kuat dan  mengendalikan emosi.

Salam sukses untuk kita semua

Monday, February 3, 2014

Atlet Baru Dojang Sanata Dharma Ikuti Tryout




Dojang taekwondo Sanata Dharma terus mencoba memunculkan atlet atlet baru, para atlet telah diuji dalam event Tryout yang diadakan Dojang Instiper minggu,(26/1) yang lalu. Acara ini dimulai pukul 08:00 WIB  dan di ikuti oleh berbagai dojang di DIY, yaitu dojang UPN, UPY, YKPN, UIN, AtmaJaya, USD dan dojang tuan rumah Instiper.

Dojang Sanata Dharma mengirimkan 3 atlet barunya antara lain Fransiskus solanus petor dari Teknik Mesin 2013(under 60), Fattoni Nugraha (under 60), dan Kristtian Adi Perbowo (under over 65). Para atlet ini didampingi oleh seorang manager Erick Firmanto (TeknikElektro 2012). 


Sebagai seorang pemula, para atlet sudah memberikan penampilan yang sangat luar biasa baik, walaupun mereka belum mampu memenangkan pertandingan.Kegagalan dipertandingan awal ini dikarenakan kurangnya pengalaman kyorugi yang mereka miliki.

Event ini menumbuhkan motivasi para anggota untuk menjadi bibit bibit baru di DojangSanata Dharma. Para anggota yang berkeinginan untuk menjadi atlet baru akan dilatih bersama-sama dengan atlet atlet yang lain, mereka mulai dilatih kedisiplinannya dan persiapan untuk mengikuti event event selanjutnya.

 

 

 

 

 

Saturday, November 9, 2013

Repost : Kisah Biarawati Katolik - Taken from http://indonesia.ucanews.com

Kisah biarawati Katolik latih Taekwondo untuk anak-anak penderita kanker

Kisah biarawati Katolik latih Taekwondo untuk anak-anak penderita kanker thumbnail

Suster Linda Lim sudah lama meninggalkan bela diri taekwondo, saat ia memutuskan untuk menjadi seorang biarawati. Namun, bertahun-tahun kemudian, ia kembali mengenakan sabuk hitamnya di sebuah rumah sakit di Singapura untuk melatih anak-anak yang pulih dari kanker.
Dulu, saat masih muda, Suster Linda bercita-cita jadi tentara. Tapi, tubuhnya terlalu mungil. “Lalu, aku ingin jadi polwan, untuk melindungi masyarakat,” kata dia seperti dimuat BBC. Lagi-lagi tinggi badannya tak sesuai.
Hingga akhirnya, Suster Linda menemukan taekwondo pada 1971. “Aku pikir, kalau punya sabuk hitam aku bisa jadi bodyguard dan melindungi orang lain,” ujar dia. Cita-citanya kesampaian.
Meski demikian, ia tak pernah menggunakan keahliannya itu. Suster Linda juga pernah mengecewakan orangtuanya saat memutuskan bergabung dengan misionaris.
“Sebagai putri satu-satunya, ibuku sangat kecewa saat aku memutuskan menyerahkan hidupku untuk Tuhan dan menjadi misionaris,” kata dia. Suster Linda menambahkan, orangtuanya ingin mendapatkan cucu darinya.
Orangtuanya makin kecewa saat ia meninggalkan Singapura. “Aku menghabiskan waktu 17 tahun di Inggris, 3 tahun di Afrika –saat aku menjalankan rumah sakit di Zimbabwe,” kata Suster Linda.
Pada 2004, Suster Linda pun pulang ke tanah airnya. Ibunya menderita alzeimer, ia ingin merawat orang yang melahirkannya.
Ia memutuskan bergabung dalam program kerjasama yang digalangSingapore Taekwondo Federation dan RS Mount Alvernia — memberikan manfaat olahraga pada anak-anak penderita kanker.
“Taekwondo adalah hal yang kutinggalkan demi menjadi biarawati. Ini seperti sebuah reuni.”
Saat ini, Suster Linda menjalankan kelas mingguan yang melatih 20 orang, mereka penderita tumor otak atau leukemia. Kebanyakan anak-anak. Ada juga 3 murid yang berusia 20-an tahun.
Salah satu murid tertua Suster Linda adalah Ng Wei Hau, yang didiagnosa menderita tumor otak pada usia 12 tahun. Saat itu dokter menvonis, usianya tinggal 6 bulan.
“Saat kali pertama bertemu dengannya ia duduk di kursi roda. Saat berusia 21 tahun ia bisa berjalan di frame latihan, saat berusia 23 tahun ia jalan memakai tongkat, dan kini ia bisa melangkahkan kaki tanpa bantuan orang lain,” kata Suster Linda, seperti dilansir liputan6.com.
Dan meski mengalami kebutaan dan tuli parsial, Wei Hau berhasil meraih sabuk hitam tahun lalu, di bawah bimbingan Suster Linda.
“Anak-anak ini melakukan yang terbaik, meski mereka dalam kondisi sakit,” kata Suster Linda. Hidup di bawah bayang-bayang kematian, mereka ingin menikmati dan memanfaatkan waktu mereka semaksimal mungkin.

cc : Ridha
Selamat Datang di Dojang Taekwondo Sanata Dharma
go to my homepage
Go to homepage